Surat Merah Muda

Aku menunggu bis Pulo Indah di halte, seperti biasanya sabtu ini selalu ramai, anak-anak SMA banyak yang pulang kerumah. Maklumlah aku kan termasuk anak asrama, yang selalu pulang setiap sabtu sore dan kembali ke tempat asrama Minggu sore.
Rutinitas yang terkadang membosankan, tapi itulah kehidupan anak asrama, mondir-mandir antara sekolahan dan rumah. Di sekolah sudah banyak di jejali dengan soal. Begitu pulang kerumah maunya sih istrahat, menenangkan pikiran setelah seminggu ber kutat dengan guru bengis seperti pak Ali.
Tapi terkadang sampai dirumah omelan mama terus terngiang ditelingaku. “Masa baru seminggu uang sebesar itu sudah habis, kamu jajan apa sih di sekolah,” kata mama. Yach.. . namanya orang tua wajar-wajar saja marah seperti itu. Padahal disekolah banyak sekali pengeluaran. Belum lagi uang buku kek…uang lks…uang Bimbel, apalagi kalau ada guru perpisahan wah duti lagi.
Trettt…..trettt….. aku terkejut dengan klakson mobil, aduh…ternyata aku melamun..sementara bis belum nongol juga. “Ah…mending beli es cream dulu,” pikirku. Aku berdiri menuju rombong es cream di samping halte. Hmmm enak juga es cream ini yah….” Es, cream. bang!” seorang gadis dengan sepeda motor membeli es cream. Rambutnya panjang, mata bulat seperti keturunan arab, hidungnya juga mancung. Sepintas aku menatap matanya. “Cantik juga nih cewek,” pikirku. “Mas…sekolah di SMA 88 ya,” dia menoleh kearahku. “ Iya, kenapa?” jawabku singkat. “Kenal sama Firman ya kelas Ipa,” tanyanya lagi. “oh…Firman pasti kenal dia kan satu kelas sama aku, memang kenapa, trus kamu siapanya, pasti pacarnya,”.
“Iya aku pacarnya, Aku mau ketemu dia, tapi kok ngak muncul-muncul ya,” katanya. “Terang aja ngak muncul, ini kan udah tutup sekolah, dia pulang ke asrama pintu gerbang juga udah tutup, senin aja kembali,”kataku. “Ah kayak apa ya…aku datang dari Banjarmasin ngak mungkin aku pulang kembali,” katanya. “Lho kan ada bis malam ke Banjar,” jawabku. “Aku pake motor mas, dari kemarin sore,” katanya lagi. “Sendirian,” kataku. “Ya,” memang nekat nih perempuan, hanya untuk mendatangi Firman dia berani ke Balikpapan. Namun lama-lama aku kasihan sama dia. Mau kembali ke Banjar ngak mungkin, mau ketemu Firman juga ngak mungkin. Kepala Asrama bisa memecat firman jika menerima tamu ketika dia berada di asrama apalagi tamunya cewek. Wah…bisa gawat. “Nginap dirumahku aja dah,” kataku iseng. Ah.. tapi ngak mungkin dia mau, soalnya dia kan perempuan, baru kenal mau nginap dirumahnya lelaki. “Rumah mas dimana,”katanya “Di Samarinda sekitar dua jam perjalanan dari sini,” jawabku. “Bolehlah mas, aku juga bingung mau kemana, Firman ngak biasa di temunya, aku juga baru kali ini ke Balikpapan, dan lagi mas kan satu kelas sama Firman, aku janji besok aku pasti kembali ke Banjar, soalnya sejak tadi malam belum ada tidur,” katanya. Akhirnya Siva begitu dia memperkenalkan dirinya ikut kerumahku. Dalam hati aku hanya ingin menolong, dalam benakku tak ada niat untuk macam-macam sama dia. Masalah dia pacar teman baikku firman. Bahkan sebaliknya aku khawatir firman yang cemburu sama aku kalau tahu semua ini. Yang penting aku ngak
macam-macam dan hanya ingin menolong dia saja. Kami sampai di Samarinda sekitar pukul 09.00 malam, agak lambat dari biasanya, Sepanjang perjalanan dengan motor Siva banyak sekali yang diperbincangkan. Siva cerita mulai dari kecil hingga pacaran sama Firman. Kami hanya berhenti sejenak di toko roti di Jl. Imam Bojol. Mama sempat kaget ketika aku membawa cewek. Namun setellah di jelaskan Mama paham. Kamar depan yang biasanya ku pake, ditempati Siva. Sementara aku mengalah tidur di ruang tengah. Paginya aku menyiapkan sarapan. “Bangunkan temanmu itu sarapan udah siap,”kata Mama. Pintu kamar ku ketok. “Siva bangun di suruh sarapan sama mama,”kataku. dua kali aku ketok bahkan sampai 3 kali ngak ada jawaban, mungkin masih kecapeaan. Eh ternyata pintu tak dikunci ku intip dari balik pintu. Ngak ada orang, aku melihat secarik kertas berada di atas bantal. “Aku pergi dulu! Tolong sampaikan sama Firman, kirimannya tak pernah ada lagi,” singkat tulisannya. Tapi anehnya tintanya berwarna merah bahkan kesannya seperti darah. Aku keluar mencari di dapur, di taman namun Siva ngak ketemu. Aku berfikir mungkin dia pergi tanpa pamit. Tapi aku penasaran, dan ada yang aneh. Hari senin pagi ketika masuk sekolah tujuan pertamaku adalah menemui Firman, aku ceritakan semua kejadian pada Firman. Dengan berkaca-kaca Firman bercerita tantang Siva. “Dia udah meninggal setahun yang lalu,” katanya. Aku kaget dan ngak percaya, lalu yang ku temui itu apa.? Hi….hiii….
“Dia meninggal dalam suatu kecelakaan bersama ibu kandungku, selama ini aku selalu mendoakan orang tuaku, tapi tiga bulan terakhir ini aku sibuk sekolah sehingga ngak pernah lagi mendoakan ibu di alam sana. Mungkin ini peringatan bagi aku lewat Siva dan kamu Rama,” Firman menceritakan semuanya tanpa sisa. Dan sorenya kami minta ijin sama kepala asrama dengan alasan ke makam ibu Firman. Makam itu terletak didaerah Padat penduduk di KM 3 Balikpapan. Di atas batu ada nama bertuliskan Siva Amalia dan sejajar dengan kuburan Siva tertulis nama Laila. “Nama Ibuku Laila, dia dikubur bersama Siva,” aku memperhatikan kedua kuburan itu. Selagi Firman sibuk membersihkan rumput liar, aku mendadak kaget karena didekat nisan Siva ada sapu tangan biru muda. Aku kenal sekali sapu tangan itu, karena memang barang itu punyaku. Ini kan sapu tangan yang dipinjam Siva semalam. Ada bekas darah di ujungnya. Aku semakin ngak paham fenomena apa ini. “Astagfirullah Hal Adzim, Ya Allah Ampunilah kami.??”***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: