Archive for the cerpen Category

cerita cinta

Posted in cerpen on 7 April 2009 by widyasuara

Cerita Cinta

pertama kali aku masuk sekolah baru, aku merasa bahwa aku udah beranjak dewasa. dan disekolah ini pula aku mulai punya pengalaman yang orang bilang Cinta. kadang aku ngobrol dengan teman sebangku Dwi. “Clara cowok diujung sana itu cakep juga ya,” kata dwi.. ya kami memang saling curhat jika ada permasalahan baik itu mengenai pelajaran atau masalah cowok. Selain Dwi teman yang sering dibikin curhat adalah Kiki. suatu ketika kami bertiga berkenalan dengan tiga cowok namanya Firman, Same dan Junaedi.

“Namaku Firman,” dia menjabat tanganku. “Aku Clara,”jawabku tapi perasaan ini agak aneh. maklum soalnya baru kali ini aku kenalan dengan menjabat tangan, ada rasa malu, geli, senang takut bercampur jadi satu.

dari perkenalan itu, kami sering ketemu, kadang dikelas, dikantin, bahkan dibeberapa kegiatan sekolah. Firman orangnya enak, romantis. “Setelah sekian lama aku baru menyadari kalau kamu sangat cantik,” kata Firman suatu ketika. aku terkejut dan senang. didalam hatiku sebenarya aku juga mau mengatakan “Kamu juga tampan dan baik lagi,” namun kata-kata itu hanya tersimpan dalam hati, aku malu. Tanpa ada surat-suratan, dan karena seringnya kami bertemu, maka ada tumbuh benih-benih cinta dalam hati kami. Apa yang dilakukan Firman selalu nyambung denganku, mulai makanan, kegiatan sekolah, bahkan sampai lagu-lagu favorit selalu nyambung dengan Firman.

susah senang kamu jalani bersama, sepertinya dunia ini milik kami saja. Dimana ada Clara pasti ada Firman. Temen-temen disekolah menjulukinya dengan Bunga dan Kumbang. Namun kadang kehidupan tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan. begitu juga dengan perjalanan cinta kami. Entah apa penyebabnya tiba-tiba Firman berubah Total. Dulunya dia sering kerumah sekarang jarang, dulunya sering makan bareng dikantin kini hampir tidak pernah kami lakukan. Di beberapa pertemuan kegiatan sekolah Firman juga jarang turun. “Firman punya cewek baru lho,” kata Dwi sesuatu ketika. Awalnya aku tak percaya apa yang diomongin dwi, namun perasaan ini semakin penasaran. Ada apa dengan Firman. Sampai suatu ketika secara tak sengaja aku membeli buku pelajaran di Mall. Di sebuah kafe duduk paling ujung aku melihat orang seperti Firman. Awalnya aku tak percaya biasanya kemanapun Firman pergi ia pasti bilang sama aku. Apalagi disampingnya ada cewek cantik menemaninya. Aku semakin tak percaya. Tapi begitu aku dekati betapa terkejutnya aku, bagai petir menyambar disiang bolong, kepala seakan pecah melihat bahwa lelaki itu adalahFirman. Firman nampak terkejut ketika melihatku dihadapannya. genggaman tangannya terhadap cewek disamping langsung dilepas. “Clara..”katanya dengan mata terperanjat. “Aku tidak menyangka, ternyata benar apa yang dikatakan orang,”kataku tanpa banyak bicara aku langsung pergi. Firman mencoba mengejar, “Clara aku bisa menjelaskan semaunya,” aku tak menggubris, aku berjalan terus meningalkan mereka. Hatiku hancur, orang yang selama ini aku cintai menghianati dengan semudah itu. Mengapa Firman berubah, mengapa? aku tidak habis pikir. Entahnya. dua bulan berlalu aku belum bisa melupakan kejadian itu, untuk melihat wajahnya saja aku muak, ketampanan dan keromantisan yang di perlihatkan kepadaku seakan sirna ketika aku melihat wajahnya yang sekarang. Dan pada bulan ketiga baru aku mulai melupakan dia, dengan kesibukan membantu ibuku dirumah dan kegiatan sekolah aku bisa melupakan. Apalagi Dwi dan Kiki teman akrabku selalu menghibur sehingga aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Selain Dwi dan Kiki satu orang yang selalu menghibur aku adalah Same, dan belakangan same juga ada feeling sama aku. hingga suatu ketika same mengutarakan hatinya kalau dia suka sama aku. Namun aku tidak menggubris, hatiku rasanya sudah tertutup oleh lelaki, aku takut kejadian itu akan terulang seperti Firman, aku belum mau membuka hatiku untuk lelaki. Apalagi aku tahu kalau Kiki juga ada perhatian sama same.

Namun Same memang orangnya tidak mudah menyerah dia terus mengejar aku. “Aku benar-benar serius, aku janji aku tidak akan menghianati seperti Firman,”katanya suatu ketika sambil meyakinkan aku.

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Kiki,”katanya menyakinkan aku lagi. Namun nampaknya hatiku benar-benar tertutup. Aku masih mencintai Firman, namun aku juga membenci dia. Mungkin ini yang dinamakan patah hati. Rasanya aku sulit membuka hati kembali dengan cowok lain. Entahlah sampai kapan hatiku ini akan sembuh. Mungkin sampai ada cowok yang benar-benar mencintaiku sehidup-semati***

Iklan

Surat Merah Muda

Posted in cerpen on 5 April 2009 by widyasuara

Aku menunggu bis Pulo Indah di halte, seperti biasanya sabtu ini selalu ramai, anak-anak SMA banyak yang pulang kerumah. Maklumlah aku kan termasuk anak asrama, yang selalu pulang setiap sabtu sore dan kembali ke tempat asrama Minggu sore.
Rutinitas yang terkadang membosankan, tapi itulah kehidupan anak asrama, mondir-mandir antara sekolahan dan rumah. Di sekolah sudah banyak di jejali dengan soal. Begitu pulang kerumah maunya sih istrahat, menenangkan pikiran setelah seminggu ber kutat dengan guru bengis seperti pak Ali.
Tapi terkadang sampai dirumah omelan mama terus terngiang ditelingaku. “Masa baru seminggu uang sebesar itu sudah habis, kamu jajan apa sih di sekolah,” kata mama. Yach.. . namanya orang tua wajar-wajar saja marah seperti itu. Padahal disekolah banyak sekali pengeluaran. Belum lagi uang buku kek…uang lks…uang Bimbel, apalagi kalau ada guru perpisahan wah duti lagi.
Trettt…..trettt….. aku terkejut dengan klakson mobil, aduh…ternyata aku melamun..sementara bis belum nongol juga. “Ah…mending beli es cream dulu,” pikirku. Aku berdiri menuju rombong es cream di samping halte. Hmmm enak juga es cream ini yah….” Es, cream. bang!” seorang gadis dengan sepeda motor membeli es cream. Rambutnya panjang, mata bulat seperti keturunan arab, hidungnya juga mancung. Sepintas aku menatap matanya. “Cantik juga nih cewek,” pikirku. “Mas…sekolah di SMA 88 ya,” dia menoleh kearahku. “ Iya, kenapa?” jawabku singkat. “Kenal sama Firman ya kelas Ipa,” tanyanya lagi. “oh…Firman pasti kenal dia kan satu kelas sama aku, memang kenapa, trus kamu siapanya, pasti pacarnya,”.
“Iya aku pacarnya, Aku mau ketemu dia, tapi kok ngak muncul-muncul ya,” katanya. “Terang aja ngak muncul, ini kan udah tutup sekolah, dia pulang ke asrama pintu gerbang juga udah tutup, senin aja kembali,”kataku. “Ah kayak apa ya…aku datang dari Banjarmasin ngak mungkin aku pulang kembali,” katanya. “Lho kan ada bis malam ke Banjar,” jawabku. “Aku pake motor mas, dari kemarin sore,” katanya lagi. “Sendirian,” kataku. “Ya,” memang nekat nih perempuan, hanya untuk mendatangi Firman dia berani ke Balikpapan. Namun lama-lama aku kasihan sama dia. Mau kembali ke Banjar ngak mungkin, mau ketemu Firman juga ngak mungkin. Kepala Asrama bisa memecat firman jika menerima tamu ketika dia berada di asrama apalagi tamunya cewek. Wah…bisa gawat. “Nginap dirumahku aja dah,” kataku iseng. Ah.. tapi ngak mungkin dia mau, soalnya dia kan perempuan, baru kenal mau nginap dirumahnya lelaki. “Rumah mas dimana,”katanya “Di Samarinda sekitar dua jam perjalanan dari sini,” jawabku. “Bolehlah mas, aku juga bingung mau kemana, Firman ngak biasa di temunya, aku juga baru kali ini ke Balikpapan, dan lagi mas kan satu kelas sama Firman, aku janji besok aku pasti kembali ke Banjar, soalnya sejak tadi malam belum ada tidur,” katanya. Akhirnya Siva begitu dia memperkenalkan dirinya ikut kerumahku. Dalam hati aku hanya ingin menolong, dalam benakku tak ada niat untuk macam-macam sama dia. Masalah dia pacar teman baikku firman. Bahkan sebaliknya aku khawatir firman yang cemburu sama aku kalau tahu semua ini. Yang penting aku ngak
macam-macam dan hanya ingin menolong dia saja. Kami sampai di Samarinda sekitar pukul 09.00 malam, agak lambat dari biasanya, Sepanjang perjalanan dengan motor Siva banyak sekali yang diperbincangkan. Siva cerita mulai dari kecil hingga pacaran sama Firman. Kami hanya berhenti sejenak di toko roti di Jl. Imam Bojol. Mama sempat kaget ketika aku membawa cewek. Namun setellah di jelaskan Mama paham. Kamar depan yang biasanya ku pake, ditempati Siva. Sementara aku mengalah tidur di ruang tengah. Paginya aku menyiapkan sarapan. “Bangunkan temanmu itu sarapan udah siap,”kata Mama. Pintu kamar ku ketok. “Siva bangun di suruh sarapan sama mama,”kataku. dua kali aku ketok bahkan sampai 3 kali ngak ada jawaban, mungkin masih kecapeaan. Eh ternyata pintu tak dikunci ku intip dari balik pintu. Ngak ada orang, aku melihat secarik kertas berada di atas bantal. “Aku pergi dulu! Tolong sampaikan sama Firman, kirimannya tak pernah ada lagi,” singkat tulisannya. Tapi anehnya tintanya berwarna merah bahkan kesannya seperti darah. Aku keluar mencari di dapur, di taman namun Siva ngak ketemu. Aku berfikir mungkin dia pergi tanpa pamit. Tapi aku penasaran, dan ada yang aneh. Hari senin pagi ketika masuk sekolah tujuan pertamaku adalah menemui Firman, aku ceritakan semua kejadian pada Firman. Dengan berkaca-kaca Firman bercerita tantang Siva. “Dia udah meninggal setahun yang lalu,” katanya. Aku kaget dan ngak percaya, lalu yang ku temui itu apa.? Hi….hiii….
“Dia meninggal dalam suatu kecelakaan bersama ibu kandungku, selama ini aku selalu mendoakan orang tuaku, tapi tiga bulan terakhir ini aku sibuk sekolah sehingga ngak pernah lagi mendoakan ibu di alam sana. Mungkin ini peringatan bagi aku lewat Siva dan kamu Rama,” Firman menceritakan semuanya tanpa sisa. Dan sorenya kami minta ijin sama kepala asrama dengan alasan ke makam ibu Firman. Makam itu terletak didaerah Padat penduduk di KM 3 Balikpapan. Di atas batu ada nama bertuliskan Siva Amalia dan sejajar dengan kuburan Siva tertulis nama Laila. “Nama Ibuku Laila, dia dikubur bersama Siva,” aku memperhatikan kedua kuburan itu. Selagi Firman sibuk membersihkan rumput liar, aku mendadak kaget karena didekat nisan Siva ada sapu tangan biru muda. Aku kenal sekali sapu tangan itu, karena memang barang itu punyaku. Ini kan sapu tangan yang dipinjam Siva semalam. Ada bekas darah di ujungnya. Aku semakin ngak paham fenomena apa ini. “Astagfirullah Hal Adzim, Ya Allah Ampunilah kami.??”***